Sabtu, 02 Juni 2012

DARWINISME, NEODARWINISME DAN MISKONSEPSI YANG MENYERTAINYA





Tujuan Penulis : Mengkaji lebih mendetail tentang teori evolusi organik Darwin, Darwinisme dan Neodarwinisme yaitu dengan tidak menupi – nutupi tentang kelebihan dan kelemahan – kelemahan yang terdapat pada teori Darwin, sesuai dengan salah satu kaidah dalam ilmu pengetahuan (metode ilmiah) yang terbuka.

Fakta – fakta penting dalam Tulisan :
1.      Darwinisme adalah para pengikut teori Darwin, yang dinamakan teori Darwin adalah Teori Seleksi Alam (TSA) Darwin, sedangkan teori evolusi organik Darwin dikenal dengan Teori Darwin abad 19.
2.      Pada masa kini pengetahuan evolusi makhluk hidup telah menjadi landasan pijak berkembangnya biologi modern dalam berbagai bidang biologi terapan, misalnya pemuliaan, pengendalian hama dan lain sebagainya; terutama rekayasa genetika.
3.      Perkembangan teori evolusi organik tidak dapat lepas dari perkembangan bidang – bidang ilmu yang lain terkait dengan genetika, biokimia, biologi molekuler, fisiologi dan lain – lain.
4.      Terdapat 6 fakta yang menjadi dasar Darwin dalam merumuskan wawasannya mengenai Teori Seleksi Alam (TSA) Darwin, yakni :
1.         Kecenderungan makhluk hidup berkembang biak karena fertilitas atau tingkat kesuburan makhluk hidup yang tinggi, sehingga jika tidak ada penghambat dalam perkembangbiakan, maka dalam waktu singkat dimungkinkan dunia tidak dapat menampungnya.
2.         Jumlah individu (secara keseluruhan) hampir tidak berubah meskipun fertilitas makhluk hidup tinggi.
Hal ini dikarenakan terdapat faktor pembatas dan pengatur jumlah individu yang membatasi dan mengatur pertambahan jumlah individu suatu jenis (spesies) di suatu tempat. Sehingga dengan adanya faktor ini individu – individu berhasil tetap hidup, tidak banyak jumlahnya, sekali pun banyak turunan yang dihasilkan tetapi tidak banyak yang mati. Salah satu faktor pembatas dan pengatur itu adalah jumlah makanan yang tersedia.
3.         Adanya konsep “struggle for existance” (perjuangan untuk hidup).
Konsep ini merupakan konsep agar setiap individu tetap dapat hidup, baik berjuang secara pasif maupun berjuang secara aktif. Pada umumnya perjuangan untuk hidup terjadi karena adanya :
a.    Persaingan, baik persaingan antar individu se-spesies maupun yang berlainan spesies
b.    Pemangsaanan dan parasitisme
c.    Perjuangan terhadap lingkungan yang tidak hidup, seperti iklim, suhu dan sebagainya
4.         Adanya keanekaragaman dan hereditas atau adanya variasi dan faktor – faktor yang menentukannya.
Pada umumnya keanekaragaman dapat dibedakan menjadi dua, yaitu keanekaragaman yang mencakup keanekaragaman struktur, tingkah laku maupun aktivitas, dan keanekaragaman yang merupakan ciri yang diwariskan (berkaitan dengan faktor genetis, misalnya gen pembawa mata sipit yang diturnkan dari gen orang tuanya). Adanya keanekaragaman tersebut menyebabkan keberhasilan “perjuangan untuk hidup” tidak sama antara individu satu dengan individu yang lain sehingga meskipun sebenarnya individu pada generasi turunan (spesies baru) banyak, namun tetap tidak terjadi lonjakan karena setiap individu memiliki keanegaraman untuk melakukan “perjuangan untuk hidup” sendiri - sendiri. Keanekaragaman ini misalnya mulai terihat mulai tingkat antara filum (divisio), antara kelas sampai dengan antar individu sejenis, bahkan antar individu seketurunan.
5.         Adanya Seleksi Alam.
Tingkat keberhasilan “perjuangan untuk hidup” tidak sama antar individu, kenyataan itu disebabkan ada individu yang lebih sesuai dengan yang lainnya. Individu yang lebih sesuai inilah, lebih berhasil dalam “perjuangan untuk hidup”, dimana ia mempunyai peluang lebih besar untuk melanjutkan keturunan, dan sekaligus mewariskan ciri – cirinya pada generasi turunan. Sebaliknya individu yang kurang berhasil lama kelamaan akan tersisih dari generasi ke genarasi. Sehingga Charles Darwin mengartikan seluruh proses tersebut  sebagai adanya seleksi alam di lingkungan makhluk hidup. Dari generasi ke generasi peristiwa seleksi alam ini menyababkan sebagian individu menjadi semakin adaptif, sedangkan yang lainnya akan tersisih. Dalam hubungan ini, Herbert Spencer, memperkenalkan istilah “yang tetap hidup lestari adalah yang paling sesuai”.
6.         Lingkungan yang Terus Berubah.
Dari waktu ke waktu, komponen atau faktor – faktor lingkungan terus berubah dan ini suatu kenyataan. Misalnya, perubahan iklim, perubahan geografis, atau fluktuasi cadangan makanan dan sebagainya. Dengan perubahan – perubahan ini makhluk hidup harus terus menerus mengadakan penyesuaian melalui “struggle of existance” dan berlangsung secara terus menerus yang nantinya akan menciptakan individu yang berhasil lolos dari seleksi alam (memiliki ciri – ciri yang semakin adaptif dengan perubahan lingkungan), sehingga akan menjadi cikal bakal pada generasi generasi turunannya. Inilah tanda adanya perubahan yang menuju ke terbentuknya jenis atau spesies baru.
Setelah perjalannya di kepulauan Galapagos dalam waktu kurang lebih 20 tahun, berdasarkan data – data yang diperoleh Darwin menunjukkan fakta bahwa sesungguhnya evolusi terjadi di lingkungan makhluk  hidup, sehingga sekarang lebih dikenal dengan Teori Seleksi Alam Darwin.

5.      Makna utama dari wawasan Darwin dalam teorinya adalah bahwa evolusi organik terjadi karena peristiwa seleksi alam.
6.      Kemudian dalam teori Evolusi Organik-nya, Darwin Tidak pernah menjelaskan bahwa manusia bersal dari kera, Darwin hanya menjelaskan beberapa hal penting, yaitu :
a.       Berdasarkan pengalamannya dari pemeliharaan burung merpati di Inggris, Darwin mengambil kesimpulan bahwa apa yang dapat dicapai manusia dengan cara berencana, dapat pula tercapai oleh alam sendiri dengan mekanisme Seleksi Alam.
b.      Dalam bukunya The Origin Of Spesies Darwin merumuskan suatu pandangan pokok bahwa semua jenis binatang berasal dari satu sel purba.
c.       Dalam bukunya yang kedua yaitu The Descent of Man, ia menerapkan teorinya dalam perkembangan binatang menuju manusia, dimana binatang yang paling maju, yakni kera dengan mengalami struggle of life sedikit demi sedikit berubah dan dalam jenisnya yang paling sempurna mengarah pada wujud kemanusiian (seolah – olah binatang menjadi manusia, tetapi tidak mengatakan bahwa manusia berasal dari kera).s
d.      Meskipun begitu, dalam bukunya, Darwin tetap berpandangan bahwa sel – sel purba diciptakan Tuhan.
7.      Ungkapan bahwa Darwin dalam teori evolusi organik-nya menyatakan manusia berasal dari kera adalah akibat penafsiran yang salah oleh Ernst Heinrich Haeckel (1834 - 1919). Menurut Haeckal, dunia ini kekal, tidak ada permulaan dan hidup tercipta dengan sendirinya secara mekanis, demikian juga manusia. Selain itu Heackal dengan sikap materialistis membuka jalan lebar ke atheisme, dimana ia menolak penciptaan sama sekali oleh Tuhan.

Pertanyaan mengenai topik ini :
1.      Apakah memang benar peristiwa evolusi benar – benar terjadi ?
2.      Apakah benar bahwa sejarah kehidupan terjadi dari proses evolusi? ataukah merupakan transformasi suatu kehidupan ?
3.      Jika memang benar kehidupan merupakan suatu evolusi, maka bagaimana dengan penciptaan Nabi Muhammad saw. ?
4.      Apakah setiap perubahan genetik merupakan suatu evolusi ?
5.      Sebenarnya sampai batas apa suatu perubahan dikatakan sebagai peristiwa “evolusi” ?
6.      Apakah varian – varian baru dapat dibuat secara sengaja melalui peristiwa rekombinasi gen yang telah dirancang? Apakah tetap dianggap sebagai evolusi ?

Pendapat atau Pesan setelah membaca topik ini :
1.      Ditengah perdebatan mengenai teori evolusi yang berbenturan dengan agama, maka kita harus dapat menempatkan teori evolusi sesuai dengan tempatnya dalam pandangan agama. Pada hakikiatnya jika kita berbicara mengenai pembentukan alam semesta, kita tidak akan mampu menembus dengan akal logika bahwa memang Tuhan-lah yang paling khakiki sebagai pencipta alam semesta khususnya penciptaan manusia, bukan berasal dari kera atau binatang terdahulu seperti yang dijelaskan dalam teori evolusi, namun sebaliknya teori evolusi ini dapat dipergunakan sebagai sumber penjelasan yang paling mungkin tentang peristiwa adaptasi tumbuhan dan hewan.
2.      Menindaklanjuti pertentangan terhadap Teori Evolusi Organik Darwin, maka dapat di ambil beberapa konsep penting yang telah berkembang dan mengalami penyempurnaan dari konsep Teori Seleksi Alam Darwin menjadi teori baru yang disebut teori Neodarwinisme, yakni :
a.       Peristiwa seleksi alam bukanlah sebab utama terjadinya evolusi organik, namun peristiwa alam hanya berperan sebagai faktor yang mengukuhkan varian – varian yang sesuai, yaitu dengan mengarahkan dan membatasi atas varian – varian yang telah ada.
b.      Peristiwa seleksi baru dapat berlangsung bila terlebih dahulu telah ada keanekaragaman (variasi) antar individu.
3.      Menanggapi pendapat ahli genetika yang menyatakan bahwa peristiwa evolusi organik disebabkan karena mutasi, maka sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini dapat diperoleh konsep bahwa evolusi organik didasarkan karena adanya variasi, sedangkan penyebab dari variasi pada makhluk hidup itu sendiri antara lain karena :
1.         Peristiwa rekominasi Gen.
Hal ini sesuai dengan hukum mendel I dan Hukum Mendel II, dimana pada makhluk hidup yang berkembangbiak secara kawin rekombinasi gen adalah penyebab timbulnnya variasi individu.
2.         Peristiwa Muasi Gen.
Dimana penyebab mutasi gen adalah bermacam – macam faktor lingkungan. Sehingga secara singkat dapat dikatakan, bahwa rekombinasi gen dan macam – macam faktor lingkungan adalah sebab utama peristiwa evolusi organik; dan peristiwa seleksi alam berperan sebagai faktor pengarah dan faktor pembatas.
4.      Kepada semua pembaca, diharapkan mampu memahami dengan benar konsep mengenai evolusi diatas, agar tidak terdapat kesalafahaman dalam menerapkan evolusi dalam kehidupan sehari – hari serta fenomenanya.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites